Deskripsi Biografi Tokoh

 Assalamualaikum Wr.Wb.

Kembali lagi di blog ini,kali ini saya membuat narasi biografi dari seorang guru yang pernah mengajari saya dulu.Baiklah selamat membaca riders....😘



  Tanya Pada Hati      

"Jika kita ingin melakukan sesuatu,segeralah tanya pada hati kita,kira-kira Allah suka atau tidak"  [Ustad Muzayyin,M.pd]


Aku teringat saat masih di pesantren dulu saat Abuya mengisi ta’lim di tempat santri putri,waktu itu kami sangat antusias sekali saat setelah selesai materi yang di sampaikan oleh beliau,bukan karena ingin cepat selesai tapi karena kami ingin bertanya.Memang biasanya Abuya selalu memberikan sesi pertanyaan di akhir materi baik itu pertanyaan tentang materi yang sudah disampaikan ataupun tentang hal lain.Makanya kami sangat antusias sekali,ada yang langsung bertanya dan ada juga yang menggunakan kertas kecil karena malu untuk bertanya langsung.Saat sudah dibuka sesi pertanyaan itu banyak sekali yang mengangkat tangan untuk bertanya,aku bahkan sampai menurunkan tangan ku kembali karena merasa tidak akan terpilih,dan salah seorang temanku mendapat kesempatan itu.Lalu dia bertanya tentang supaya bisa terhindar dari masalah kehidupan,dengan jenaka Abuya menjawab.''Kakak ini masih muda jangan terlalu dipikirkan lah tentang masalah hidup.''

 Semua tertawa mendengar jawaban dari Abuya termasuk temanku itu dia langsung menundukan wajahnya karena malu,tapi itu hanya gurauan saja dari Abuya.''Masalah itu kak tidak bisa habis,tidak bisa hilang dari diri manusia.Disini siapa yang tidak punya masalah?Semuanya pasti punya masalah mau dia penjabat,presiden,pedagang,petani,santri bahkan ustad sekalipun pasti punya masalah.kita lahir ke dunia ini saja itu sudah masalah kak,tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan menyelesaikan masalah kita itu,jangan lebay masalah itu tidak ada yang susah cuman kita sendiri yang membuatnya menjadi susah.Allah itu maha tau tanpa perlu diberitahu dan tidak mungkin Allah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia.''ucap Abuya lanjut menjelaskan.

Setelah dari ta’lim Abuya itu,tiba-tiba saja perkataan Abuya terngiang-ngiang di kepalaku,entahlah mengapa mungkin karena aku sendiri juga memiliki banyak masalah pada saat itu.Jadi sangat terasa sampai ke hati,bahasa kerennya sekarang itu baper,bawa perasaan.Saat Abuya menjelaskan waktu itu membuka pikiran ku bahwasanya tidak selamanya masalah yang kita dapat menyusahkan kita.Benar kata Abuya tergantung diri kita sendiri bagaimana menyikapinya,kalau kita ikhlas pastinya akan membawa kebaikan juga pada kita,namun sebaliknya jika kita hanya mengeluh dan tak pernah bersabar pasti akan menyusahkan diri sendiri.

Oh ya aku dari tadi membicarakan sosok yang ku panggil Abuya namun tidak memberi tau siapa beliau,baiklah akan aku perkenalkan.Nama beliau adalah Ustad Muzayyin,M.pd,beliau adalah seorang guru yang mengajar di pondok pesantren Al-Mukhlishin tempatku menimba ilmu agama.Kerap kali beliau dipanggil Abuya oleh para santri,baik putra maupun putri.Panggilan Abuya ini adalah panggilan sayang kami untuk beliau yang artinya adalah ayah karena beliau memang sudah seperti ayah kedua bagi kami disini,dan beliau sudah lama mengajar di pondok Pesantren ini.saat mengajar beliau selalu sabar mengajari kami tanpa keluh kesah dan beliau tidak pernah marah.Saat kami masih tidak paham akan pembelajaran nya beliau senantiasa mengulang kembali dan menjelaskan kembali pada kami.Abuya di kenal sebagai sosok yang sangat ramah,baik hati,dan ahklak beliau yang begitu baik membuat nya begitu di cintai dan di sayangi oleh pada santri disini.

Abuya Muzayyin lahir pada tanggal 1 Desember 1987,dari keluarga yang sederhana,dan beliau adalah anak bungsu.Sedari kecil beliau memang sudah di kenalkan dengan ilmu agama,SD dan SMP beliau bersekolah di pondok pesantren Darussalam al-Falah,dan ketika SMA beliau bersekolah  di salah satu pondok pesantren yang ada di Banjar.Ada kisah saat beliau berada di Banjar,saat itu ayah beliau sedang sakit dan sampai ajal menjemputnya sang ayah enggan untuk meberitaukan kepada Abuya takut jika Abuya tau tentang hal ini akan meninggalkan pelajarannya dan kembali ke Kalimantan.Setelah selesai menyelesaikan belajar beliau di Banjar,Abuya pun kembali ke Kalimantan,dengan perasaan senang beliau  datang ke rumah ingin melihat kedua orangtua nya untuk melepas rindu sebab sudah lama tak bertemu,namun sedih yang beliau dapat saat mengetahui sang ayah telah tiada.Tapi Abuya begitu sabar atas apa yang terjadi dan menyerahkan semuanya pada sang penciptanya.Beliau kembali menutut ilmu ke pulau Jawa sampai S2 di Darullughah Wadda'wah,atau di kenal dengan singkatan DALWA.

Beliau memiliki tubuh yang berisi tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah,kulit beliau bewarna sawo matang,hidung jambu dengan mata yang bulat dan bentuk wajah yang oval.Umur beliau yang sudah masuk kepala 3 sudah beristri dan memiliki 3 orang anak yang masih kecil dan sangat lucu,si sulung Hasan,Husain,dan si bungsu Khadija.Abuya merupakan sosok ayah dan guru yang pandai membagi waktu,waktu untuk keluarga juga untuk santri.Dan beliau tidak pernah meninggalkan untuk mengajar para santri walau letih bagaimanapun beliau tetap mengajar.

Jika ingin pergi mengajar atau ke majlis ta'lim beliau selalu memakai baju panjang atau gamis,tak lupa dengan kopiah atau peci berwarna putih,jika berjalan beliau melangkah dengan cepat,tutur katanya sangat lembut,dan bila tersenyum dan tertawa,masyaallah sangat menyejukkan hati.Beliau sudah lama menjadi idola para santri,dan baliau sangat dekat dengan santri jika ada permasalahan santri beliau tidak sungkan untuk mendengar masalah-masalah dari santri,juga tak pernah membeda-bedakan santri.tak heran jika beliau sangat di sayangi dan di cintai oleh para santri disini.

Abuya itu menurutku sudah seperti sosok motivator yang selalu memberikan nasihat serta saran lewat kata-kata mutiaranya.Dan beliau pernah berkata saat mengajar di kelas ku,''Jika kita ingin melalukan sesuatu,segeralah bertanya pada hati kita,kira-kira Allah suka atau tidak.Jika niatnya selain Allah,apa yang kita lakukan hanya akan berakahir dengan kegelisahan dan kekcewaan.''.Dengan ini beliau mengingatkan para santri bahwasannya apa yang ingin kita lakukan haruslah karena Allah,bukan karena yang lain.Misalkan saat kita ingin berbuat baik,kita harus siap karena tidak semua orang akan melihat atau menilai kita baik,karena setiap manusia punya pandaangan nya masing-masing.Ada yang menilai dengan baik dan juga sebaliknya,kita niatkan saja saat kita berbuat baik itu bukan karena untuk di puji tapi murni karena allah. Dan saat ada yang yang mencaci dan memaki saat kita berbuat baik di bilang bahwa kita hanya pencitraan,tak perlu kita membela diri,apalagi sakit hati sehingga kita membalasnya.Allah pastinya melihat semua yang kita lakukan,karena Allah maha melihat dan mengetahui apa yang ada di dunia ini

Banyak sekali pembelajaran yang ku dapat saat di pesantren selain ilmu agama aku juga mendapat ilmu kehidupan.Mendengar dan melihat kisah dari Abuya Muzayyin,benar-benar membuat ku merasa bahwa perjuangan ku belum seberapa masih banyak yang harus ku tempuh.Dan apapun yang kita dapat di dunia ini baik itu kebahagian,kesedihan,juga masalah.Senantiasa kita harus bersyukur dan menerimanya dengan lapang dada.Tanya pada hati kita apakah yang kita lakukan atau perbuat akan membuat Allah senang atau malah sebaliknya membuat Allah murka?.



Sekian narasi tentang biografi kali ini yang bisa saya buat,selain dengan tujuan mengumpulkan tugas,juga ingin mengambarkan sosok guru favorit saya di pesantren dulu.Baiklah terimakasih sudah membaca,,,sampai jumpa di lain waktu.😍

Wassalamualaikum Wr.Wb

Komentar