Tanya Pada Hati
Aku teringat saat masih di
pesantren dulu saat Abuya mengisi ta’lim di tempat santri putri,waktu itu kami sangat
antusias sekali saat setelah selesai materi yang di sampaikan oleh beliau,bukan
karena ingin cepat selesai tapi karena kami ingin bertanya.Memang biasanya
Abuya selalu memberikan sesi pertanyaan di akhir materi baik itu pertanyaan
tentang materi yang sudah disampaikan ataupun tentang hal lain.Makanya kami
sangat antusias sekali,ada yang langsung bertanya dan ada juga yang menggunakan
kertas kecil karena malu untuk bertanya langsung.Saat sudah dibuka sesi
pertanyaan itu banyak sekali yang mengangkat tangan untuk bertanya,aku bahkan
sampai menurunkan tangan ku kembali karena merasa tidak akan terpilih,dan salah
seorang temanku mendapat kesempatan itu.Lalu dia bertanya tentang supaya bisa terhindar
dari masalah kehidupan,dengan jenaka Abuya menjawab.''Kakak ini masih muda
jangan terlalu dipikirkan lah tentang masalah hidup.''
Semua tertawa mendengar jawaban dari Abuya
termasuk temanku itu dia langsung menundukan wajahnya karena malu,tapi itu
hanya gurauan saja dari Abuya.''Masalah itu kak tidak bisa habis,tidak bisa
hilang dari diri manusia.Disini siapa yang tidak punya masalah?Semuanya pasti
punya masalah mau dia penjabat,presiden,pedagang,petani,santri bahkan ustad
sekalipun pasti punya masalah.kita lahir ke dunia ini saja itu sudah masalah
kak,tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan menyelesaikan masalah
kita itu,jangan lebay masalah itu tidak ada yang susah cuman kita sendiri yang
membuatnya menjadi susah.Allah itu maha tau tanpa perlu diberitahu dan tidak
mungkin Allah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia.''ucap Abuya
lanjut menjelaskan.
Setelah dari ta’lim Abuya
itu,tiba-tiba saja perkataan Abuya terngiang-ngiang di kepalaku,entahlah
mengapa mungkin karena aku sendiri juga memiliki banyak masalah pada saat itu.Jadi
sangat terasa sampai ke hati,bahasa kerennya sekarang itu baper,bawa
perasaan.Saat Abuya menjelaskan waktu itu membuka pikiran ku bahwasanya tidak
selamanya masalah yang kita dapat menyusahkan kita.Benar kata Abuya tergantung
diri kita sendiri bagaimana menyikapinya,kalau kita ikhlas pastinya akan
membawa kebaikan juga pada kita,namun sebaliknya jika kita hanya mengeluh dan
tak pernah bersabar pasti akan menyusahkan diri sendiri.
Oh ya aku dari tadi membicarakan
sosok yang ku panggil Abuya namun tidak memberi tau siapa beliau,baiklah akan
aku perkenalkan.Nama beliau adalah Ustad Muzayyin,M.pd,beliau adalah seorang
guru yang mengajar di pondok pesantren Al-Mukhlishin tempatku menimba ilmu
agama.Kerap kali beliau dipanggil Abuya oleh para santri,baik putra maupun
putri.Panggilan Abuya ini adalah panggilan sayang kami untuk beliau yang
artinya adalah ayah karena beliau memang sudah seperti ayah kedua bagi kami
disini,dan beliau sudah lama mengajar di pondok Pesantren ini.saat mengajar
beliau selalu sabar mengajari kami tanpa keluh kesah dan beliau tidak pernah
marah.Saat kami masih tidak paham akan pembelajaran nya beliau senantiasa
mengulang kembali dan menjelaskan kembali pada kami.Abuya di kenal sebagai
sosok yang sangat ramah,baik hati,dan ahklak beliau yang begitu baik membuat
nya begitu di cintai dan di sayangi oleh pada santri disini.
Abuya Muzayyin lahir pada tanggal
1 Desember 1987,dari keluarga yang sederhana,dan beliau adalah anak
bungsu.Sedari kecil beliau memang sudah di kenalkan dengan ilmu agama,SD dan
SMP beliau bersekolah di pondok pesantren Darussalam al-Falah,dan ketika SMA
beliau bersekolah di salah satu pondok
pesantren yang ada di Banjar.Ada kisah saat beliau berada di Banjar,saat itu
ayah beliau sedang sakit dan sampai ajal menjemputnya sang ayah enggan untuk
meberitaukan kepada Abuya takut jika Abuya tau tentang hal ini akan
meninggalkan pelajarannya dan kembali ke Kalimantan.Setelah selesai
menyelesaikan belajar beliau di Banjar,Abuya pun kembali ke Kalimantan,dengan
perasaan senang beliau datang ke rumah
ingin melihat kedua orangtua nya untuk melepas rindu sebab sudah lama tak
bertemu,namun sedih yang beliau dapat saat mengetahui sang ayah telah
tiada.Tapi Abuya begitu sabar atas apa yang terjadi dan menyerahkan semuanya
pada sang penciptanya.Beliau kembali menutut ilmu ke pulau Jawa sampai S2 di
Darullughah Wadda'wah,atau di kenal dengan singkatan DALWA.
Beliau memiliki tubuh yang berisi
tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah,kulit beliau bewarna sawo matang,hidung
jambu dengan mata yang bulat dan bentuk wajah yang oval.Umur beliau yang sudah
masuk kepala 3 sudah beristri dan memiliki 3 orang anak yang masih kecil dan
sangat lucu,si sulung Hasan,Husain,dan si bungsu Khadija.Abuya merupakan sosok ayah
dan guru yang pandai membagi waktu,waktu untuk keluarga juga untuk santri.Dan
beliau tidak pernah meninggalkan untuk mengajar para santri walau letih
bagaimanapun beliau tetap mengajar.
Jika ingin pergi mengajar atau ke
majlis ta'lim beliau selalu memakai baju panjang atau gamis,tak lupa dengan
kopiah atau peci berwarna putih,jika berjalan beliau melangkah dengan
cepat,tutur katanya sangat lembut,dan bila tersenyum dan tertawa,masyaallah
sangat menyejukkan hati.Beliau sudah lama menjadi idola para santri,dan baliau
sangat dekat dengan santri jika ada permasalahan santri beliau tidak sungkan
untuk mendengar masalah-masalah dari santri,juga tak pernah membeda-bedakan
santri.tak heran jika beliau sangat di sayangi dan di cintai oleh para santri
disini.
Abuya itu menurutku sudah seperti
sosok motivator yang selalu memberikan nasihat serta saran lewat kata-kata
mutiaranya.Dan beliau pernah berkata saat mengajar di kelas ku,''Jika kita ingin
melalukan sesuatu,segeralah bertanya pada hati kita,kira-kira Allah suka atau
tidak.Jika niatnya selain Allah,apa yang kita lakukan hanya akan berakahir
dengan kegelisahan dan kekcewaan.''.Dengan ini beliau mengingatkan para santri
bahwasannya apa yang ingin kita lakukan haruslah karena Allah,bukan karena yang
lain.Misalkan saat kita ingin berbuat baik,kita harus siap karena tidak semua
orang akan melihat atau menilai kita baik,karena setiap manusia punya
pandaangan nya masing-masing.Ada yang menilai dengan baik dan juga
sebaliknya,kita niatkan saja saat kita berbuat baik itu bukan karena untuk di
puji tapi murni karena allah. Dan saat ada yang yang mencaci dan memaki saat
kita berbuat baik di bilang bahwa kita hanya pencitraan,tak perlu kita membela
diri,apalagi sakit hati sehingga kita membalasnya.Allah pastinya melihat semua
yang kita lakukan,karena Allah maha melihat dan mengetahui apa yang ada di
dunia ini
Banyak sekali pembelajaran yang ku dapat saat di pesantren selain ilmu agama aku juga mendapat ilmu kehidupan.Mendengar dan melihat kisah dari Abuya Muzayyin,benar-benar membuat ku merasa bahwa perjuangan ku belum seberapa masih banyak yang harus ku tempuh.Dan apapun yang kita dapat di dunia ini baik itu kebahagian,kesedihan,juga masalah.Senantiasa kita harus bersyukur dan menerimanya dengan lapang dada.Tanya pada hati kita apakah yang kita lakukan atau perbuat akan membuat Allah senang atau malah sebaliknya membuat Allah murka?.
Sekian narasi tentang biografi kali ini yang bisa saya buat,selain dengan tujuan mengumpulkan tugas,juga ingin mengambarkan sosok guru favorit saya di pesantren dulu.Baiklah terimakasih sudah membaca,,,sampai jumpa di lain waktu.😍
Wassalamualaikum Wr.Wb

Komentar
Posting Komentar